Category Archives: Artikel Buddhis

120 Paket Imlek 2019 untuk warga Chinese di Pantai Labu

pantailabu

Minggu, 20 Januari 2019: Mitos Medan akan membagikan 120 Paket Imlek 2019 untuk warga Chinese di Pantai Labu. Warga sebagian besar bekerja sebagai buruh ternak, buruh tani, nyuci baju, Ibu RT dan Janda diusia senja.

120 Paket Imlek yang akan diberikan adalah sbb:
(A). Beras 5kg
(B). Minyak Goreng 2ltr
(C). Gula Pasir 1kg
(D). Garam 250gram
(E). 2 kaleng Susu Kental Manis
(F). 2 bungkus Mie Telur
(G). Roti Kaleng 400gram
(H). 2bh Kue Bakul
(I). 1 kaleng Longan 565gram
(J). 1bungkus Permen Imlek
(K). 1bh Cola Cola/Sprite
(L). Angpao 38RB

Bagi yang ingin berpartisipasi pemenuhan PAKET IMLEK diatas dapat menghubungin kami:
1. Butos Hui Hp. 08126580025
2. Wilya Intan Hp. 081361599835
3. Jhohan Vimyaputto Hp. 081397833888

NOTE: Diharapkan segera hubungin kami dan paling lambat barang telah kami terima di hari Senin, 14 Januari 2019, barang dapat langsung di kirimkan ke Rumah Jhohan Vimyaputto.
Beras kami akan pesan dari Pantai labu untuk hemat biaya dan waktu dsbnya.
Packing Barang akan dilakukan pada Hari Jumat, 18 Januari 2018 di rumah Jhohan.Bagi yang ingin ikut serta pembagian dapat menghubungin kami.

Terima kasih
Salam Bahagia

Ini foto rumah warga pantai labu ketika survey tgl 23 Des 2018.

Panti Asuhan Satu Kasih Helvetia 16-12-2018

PAsatukasih3

PAsatukasih2

PASatukasih1
BAKSOS Minggu, 16 Desember 2018, Pukul 10.00 – 14.00WIB, di Helvetia Raya no. 122.
Mitos Medan akan memberikan bantuan untuk 19 anak (2 bayi, 6 Balita, 4 SD, 3 SMP, 4 SMA), anak-anak ini ada yg dibuang orang tua, ada yg ditinggalin di RS, ada kehilangan orang tua karena efek gunung sinabung, dsb).

Dari hasil survey, mitos medan akan membantu memenuhi kebutuhan Panti Asuhan, khususnya Bayi & Balita.
(A). 6 kaleng Susu Nutramigen LGG 400gram (disarankan dokter)
(B). 6 kaleng Susu Pediasure Rasa Vanila
(C). 6 kotak Susu Dancow untuk anak 3-5 tahun
(D). 3 bungkus Popok Perekat M (putera)
(E). 3 bungkus Popok Perekat L (puteri)
(F). Celana Dalam anak balita, SD, SMP, SMA

(G). P3K (2kotak Bye Bye Fever (u/deman bayi), 2btl minyak telon/minyak kayu putih, 1btl obat deman balita, 1btl obat batuk balita, 1pcs zambuk, dan 1btl Obat Flu balita)

(H). KESEHATAN (2bhSabun bayi, 2bh bedak bayi, 2bh shampo bayi), 8pcs odol gigi anak-anak, 1lsn sikat gigi anak-anak, 2lsn sikat gigi dewasa & 2lsn Handuk)

(I). SEMBAKO (50kg Beras, 10ltr Minyak Goreng, 4kg Gula, 1kg Garam, 10 kaleng Susu kental manis, 3bgks sereal/milo, 2btl kecap manis, 1btl kecap asin, 1btl saus tomat, 1btl saus cabe, 3kg kacang hijau, 3papan telur, 3bgks bumbu masak)

(J). LAUK PAUK 3KG (kentang, timun, tomat, wortel, terung, bawang putih, bawang bombay, bawang merah, cabe) & 3bungkus nugget

(K). KEBERSIHAN 3bungkus (Wipol, Sabun cuci piring, Deterjen baju).

(L). PERLENGKAPAN HIDUP (3bh baskom stainlis sedang, 3bh sutil sayur, 2bh Sapu, 3bh Kain pel, 2bh skop sampah, 3bh keranjang sampah, 3bh keset kamar mandi, 2bh ember hitam kecil, 3bh rak handuk, 3bh gantungan baju dinding, 3bh brus cuci baju, 1bh brus WC, 1bh sikat kamar mandi, 1bh pisau dapur, 1bh talenan)

(M). 1bh Cake Ultah
(N). 19bh Ice Cream & 2bh Semangka
(O), Pakaian bekas layak pakai untuk Bayi umur 8bln (co) &1,6th (ce) & Balita (3-5thn), anak (6-12thn)

Mitos Medan juga mengajak teman-teman yang ingin merayakan ULTAH di bulan Desember ini, dapat merayakannya di panti asuhan Satu kasih.

Bagi yang ingin berpartisipasi dapat menghubungin kami:
1. Butos Hui, Hp. 08126580025
2. Wilya Intan, Hp. 081361599835
3. Harita Hita Tan, Hp.08196027726

Kehidupan tidak pasti, namun kematian itu pasti

Oleh: Ven. Dr. K. Sri Dhammananda

Penerjemah : Tidak tercantum Sang Buddha bersabda: Kehidupan tidak pasti, namun kematian itu pasti. Setelah menyadari dengan jelas bahwa kematian pasti akan datang dan merupakan suatu akhir yang wajar, serta harus dihadapi setiap makhluk maka sebenarnya kita tidak perlu takut akan kematian. Namun, kenyataannya masih banyak diantara kita yang merasa takut menghadapinya. Karena itu kita tidak ingin mengingat-ingat bahwa kematian itu tak terelakkan dan kita ingin terus melekat pada kehidupan tercinta ini. Lahirnya seorang anak ke dunia membawa kebahagiaan dan kegembiraan bagi seluruh sanak keluarganya. Bahkan, sang ibu merasa sangat puas dan bahagia walau ia harus menanggung penderitaan yang hebat pada saat melahirkan. Ia merasa semua kesulitan dan penderitaan yang dialaminya cukup berharga untuk itu. Namun, sang anak pada waktu kelahirannya di dunia ini juga menunjukkan penderitaan yang turut ditanggungnya dengan menangis. Kemudian sang anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Ia melakukan berbagai perbuatan baik dan buruk. Dari dewasa kemudian menjadi tua dan akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini dengan meninggalkan sanak keluarga dalam kesedihan yang dalam. Demikianlah alur kehidupan seorang manusia yang senantiasa berusaha membebaskan diri dari perangkap kematian ini, namun tak seorangpun yang mampu mengatasinya. Dengan pikiran yang berputar- putar di sekitar tabungan kekayaan yang telah dikumpulkannya dan terus-menerus mengkhawatirkan anak-anak tersayang yang berkumpul mengelilinginya, serta tidak ketinggalan pula selalu menjaga dan memperhatikan kesehatan tubuhnya. Akan tetapi walaupun telah dirawat dengan hati-hati dan penuh perhatian, tetap akan kian lapuk dan melemah, yang akhirnya menimbulkan suatu kesedihan harus berpisah dengan tubuhnya tercinta. Hal demikian memang sukar diterima oleh kita, namun tak dapat dihindarkan oleh setiap orang, dan cara yang biasa ditempuh oleh kebanyakan orang dalam meninggalkan dunia ini adalah dengan keluh kesah dan ratap tangis. Kematian yang datang tiba-tiba telah dipandang sangat menakutkan, dan sikap ini timbul karena ketidak-tahuan mereka.

http://www.dhammatalks.net/BI/Dhammananda_Kehidupan_Tidak_Pasti_Namun_Kematian_itu_Pasti.pdf

Ibu dan ayah disebut ‘Brahma’

“Ibu dan ayah disebut ‘Brahma’ yg pantas dipuja, karena penuh kasih sayang terhadap anak2 mereka.
Orang bijaksana menghormati ibu dan ayah,
Memberi mereka penghormatan yg sesuai,
Menyediakan makanan dan minuman bagi mereka,

Memberi mereka pakaian dan tempat tidur,
Memandikan serta membasuh kaki mereka.

Bila ia melakukan pelayanan seperti itu Terhadap orang tuanya,

Mereka memuji orang bijaksana itu di sini
Dan setelah kematian ia bersuka cita di alam surga.”

Itivuttaka 106, Catukka, Khuddaka Nikaya

Semoga semua makhluk berbahagia.

Haruskah para Buddhis berambisi?

Ven s.Dhammika

Haruskah para Buddhis berambisi?
Bhante S. Dhammika

Ambisi (chanda atau iccha) adalah keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi: kekayaan, kekuasaan, status atau ketenaran; sementara aspirasi (pathana) adalah keteguhan yang lembut tapi tegas untuk mencapai sesuatu.Kata ‘ambisi’, dari bahasa Inggris ambition,berasal dari bahasa Latin, ambitionem, yang berarti “berputar” sementara kata ‘aspirasi’, Inggris aspiration, berasal dari kata Perancis yang berarti “untuk bernapas keluar”, terkait dengan kata Latin spiritus, ‘napas’. Ambisi tidak selalu negatif, tetapi memiliki kecenderungan untuk mengesampingkan integritas dalam upayanya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan ketika mendapatkan apa yang diinginkan, kadang-kadang terjadi penyalahgunaan. Sebagian contoh adalah aktor sukses yang akhirnya menjadi pecandu narkoba, bintang atlet yang berbuat curang untuk memenangkan lagi medali berikutnya, dan pengusaha kaya yang menghindari pajak atau mencuri dari pemegang saham mereka untuk menmbah pendapatan lebih banyak lagi.Seperti yang diutarakan Sang Buddha: ‘Karena keinginannya untuk kekayaan, sang bodoh menyandungi dirinya sendiri’ (Dhp.355). Yang sering terjadi, ambisi hanya membuat kita ‘berputar dalam lingkaran’, dengan kata lain kita dijerat lebih lanjut dalam samsara. Yang disebut ‘Self-Improvement’ Movement, ‘Gerakan Pengembagan Diri’ dalam bahasa Indonesia,adalah contoh baik dari filsafat hidup berdasarkan ambisi. Di balik semua pembicaraan tentang “gairah untuk keunggulan” (the passion for excellence), “menjadi yang terbaik yang anda bisa” (being the best you can be) dan “memberikan kontribusi kepada masyarakat” (contributing to society), biasanya terletak keserakahan dan egoisme.
Aspirasi adalah suatu wujud dari hasrat/keinginan yang dibentuk oleh keprihatinan, integritas/ketulusan dan kepentingan diri yang juga memperhitungkan kepentingan orang lain. Sementara ambisi berfokus sepenuhnya pada tujuan, aspirasi tidak pernah kehilangan fokus baik arah tujuan atau cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Aspirasi memungkinkan kita untuk “bernapas lega” (assasa, M.I, 64) setelah kita mencapai tujuan kita, karena kita tahu bahwa kita telah melakukannya tanpa mengorbankan nilai-nilai kita ataupun merugikan orang lain. Aspirasi juga berpaham bahwa, sementara tujuan duniawi mungkin berguna dalam kehidupan ini, tujuan-tujuan spiritual bermanfaat bagi kita baik di kehidupan ini, kehidupan berikutnya dan pada akhirnya akan mengarah pada keadaan pemenuhan yang sempurna, di mana kita tidak perlu lagi berusaha untuk tujuan apa pun, yaitu Nirvana. Sang Buddha mengatakan orang harus, “menuangkan seluruh hasratnya, mengerahkan dirinya, berusaha sepenuhnya, menerapkan pikiran dan keteguhan” untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut (A.IV, 364). Dan ketika Beliau mengatakan bahwa orang yang berlatih Dhamma harus “moderat dalam keinginannya”, Iamengartikanbahwa kita harus beraspirasi mencapai tujuan-tujuan yang pantas tanpa membiarkan aspirasi kitamerosot berubah menjadi ambisi. Continue reading Haruskah para Buddhis berambisi?