Haruskah para Buddhis berambisi?

Ven s.Dhammika

Haruskah para Buddhis berambisi?
Bhante S. Dhammika

Ambisi (chanda atau iccha) adalah keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi: kekayaan, kekuasaan, status atau ketenaran; sementara aspirasi (pathana) adalah keteguhan yang lembut tapi tegas untuk mencapai sesuatu.Kata ‘ambisi’, dari bahasa Inggris ambition,berasal dari bahasa Latin, ambitionem, yang berarti “berputar” sementara kata ‘aspirasi’, Inggris aspiration, berasal dari kata Perancis yang berarti “untuk bernapas keluar”, terkait dengan kata Latin spiritus, ‘napas’. Ambisi tidak selalu negatif, tetapi memiliki kecenderungan untuk mengesampingkan integritas dalam upayanya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan ketika mendapatkan apa yang diinginkan, kadang-kadang terjadi penyalahgunaan. Sebagian contoh adalah aktor sukses yang akhirnya menjadi pecandu narkoba, bintang atlet yang berbuat curang untuk memenangkan lagi medali berikutnya, dan pengusaha kaya yang menghindari pajak atau mencuri dari pemegang saham mereka untuk menmbah pendapatan lebih banyak lagi.Seperti yang diutarakan Sang Buddha: ‘Karena keinginannya untuk kekayaan, sang bodoh menyandungi dirinya sendiri’ (Dhp.355). Yang sering terjadi, ambisi hanya membuat kita ‘berputar dalam lingkaran’, dengan kata lain kita dijerat lebih lanjut dalam samsara. Yang disebut ‘Self-Improvement’ Movement, ‘Gerakan Pengembagan Diri’ dalam bahasa Indonesia,adalah contoh baik dari filsafat hidup berdasarkan ambisi. Di balik semua pembicaraan tentang “gairah untuk keunggulan” (the passion for excellence), “menjadi yang terbaik yang anda bisa” (being the best you can be) dan “memberikan kontribusi kepada masyarakat” (contributing to society), biasanya terletak keserakahan dan egoisme.
Aspirasi adalah suatu wujud dari hasrat/keinginan yang dibentuk oleh keprihatinan, integritas/ketulusan dan kepentingan diri yang juga memperhitungkan kepentingan orang lain. Sementara ambisi berfokus sepenuhnya pada tujuan, aspirasi tidak pernah kehilangan fokus baik arah tujuan atau cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Aspirasi memungkinkan kita untuk “bernapas lega” (assasa, M.I, 64) setelah kita mencapai tujuan kita, karena kita tahu bahwa kita telah melakukannya tanpa mengorbankan nilai-nilai kita ataupun merugikan orang lain. Aspirasi juga berpaham bahwa, sementara tujuan duniawi mungkin berguna dalam kehidupan ini, tujuan-tujuan spiritual bermanfaat bagi kita baik di kehidupan ini, kehidupan berikutnya dan pada akhirnya akan mengarah pada keadaan pemenuhan yang sempurna, di mana kita tidak perlu lagi berusaha untuk tujuan apa pun, yaitu Nirvana. Sang Buddha mengatakan orang harus, “menuangkan seluruh hasratnya, mengerahkan dirinya, berusaha sepenuhnya, menerapkan pikiran dan keteguhan” untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut (A.IV, 364). Dan ketika Beliau mengatakan bahwa orang yang berlatih Dhamma harus “moderat dalam keinginannya”, Iamengartikanbahwa kita harus beraspirasi mencapai tujuan-tujuan yang pantas tanpa membiarkan aspirasi kitamerosot berubah menjadi ambisi.

Artikel ini yang aslinya berbahasa Inggris dapat dibaca dibawah, dan dapat dilihat di weblog Bhante Shravasti Dhammika, Dhamma Musings,http://sdhammika.blogspot.sg/ 2015/04/should-buddhists-be-ambitious.html Artikel menarik Bhante S. Dhammika lainnya dapat dibaca di http://sdhammika.blogspot.sg

Should Buddhists Be Ambitious?

Ambition (chanda or iccha) is an eagerness to acquire personal advantage: wealth, power, status or fame; while aspiration (pathana)is a gentle but firm determination to achieve something. The English word ambition comes from the Latin ambitionem meaning “going around” while aspiration is related to the Latin spiritus, breath, and comes from the French aspirare meaning “to breathe out”. Ambition is not necessarily negative, but it does have a tendency to override integrity in its drive to get what it wants. And when it does get what it wants, it sometimes misuses it. Successful actors who end up becoming drug addicts, star athletes who cheat in order to win yet another medal, and wealthy businessmen who dodge taxes or steal from their shareholders in order to accumulate even more, would be examples of this. As the Buddha said: ‘Because of his craving for riches, the fool undermines himself’ (Dhp.355). All too often, ambition just keeps us ‘going round,’ i.e. it further entangles us in samsara. The so-called Self-Improvement Movement would be a good example of a philosophy of life based on ambition.Behindall the talk of“the passion for excellence”,“being the best you can be”and“contributing to society”,usually lies raw greed and selfishness.

Aspiration is a form of desire tempered by thoughtfulness, integrity and a self-interest that takes into account the interests of others too. While ambition is focused totally on the goal, aspiration never losessight of either the goal or the means used to attain it. Aspiration allows us to “breathe freely”(assasa, M.I,64) after we have achieved our goal, because we know we have done it without compromising our values or disadvantaging others. Aspiration also understands that, while mundane goals may be useful in this life, spiritual goals benefit us in both this and the next life and will eventually lead to the state of complete fulfilment where we no longer strive for any goal, i.e, Nirvana.The Buddha said one should,“put forth his whole desire,exert himself, make a strong effort, apply his mind and resolve” to attain such goals (A.IV,364). And when he said that one practising Dhamma should be“moderate in his desires”, he meant we should aspire towards worthwhile goals without allowing our aspiration to degenerate into ambition.