Category Archives: Artikel Buddhis

[Tanya-Jawab] Apa yang perlu diperhatikan dalam mata pencarian?

Dari: anton yanuar, bekasi
Apa yang perlu diperhatikan dalam mata pencarian?
Karena saya bingung apa yang disebut serakah.
Saya membantu orangtua wiraswasta (berdagang), persaingan dagang semakin ketat.
Apa bijak kita ingin usaha bertambah besar dan besar (menguasai pasar)?
Melakukan pengendalian harga pasar (menjual dengan untung kecil agar
angka penjualan tinggi), apakah ini serakah ?
Atau menjual item barang dengan harga jual tinggi.
Terima kasih.

Jawaban:
Adalah hal yang wajar jika sebagai seorang perumah tangga bekerja
keras mencari nafkah demi kebahagiaan diri sendiri maupun keluarganya.
Namun, kerja keras ini hendaknya dilakukan dengan memperhatikan
beberapa hal berikut:
1. Mendapatkan uang sebagai sarana membahagiakan keluarga.
2. Melaksanaan pekerjaan yang tidak bertentangan dengan hukum negara
serta Pancasila Buddhis.
3. Mengembalikan suatu perilaku bisnis pada diri sendiri yaitu:
Apabila diri sendiri tidak ingin dirugikan, maka hendaknya orang juga
tidak merugikan fihak lain.

Dengan demikian, memperbesar suatu usaha adalah hal yang wajar
dilakukan, namun menjual barang dengan harga yang lebih tinggi dari
harga pasar pada umumnya adalah merupakan tindakan yang kurang sesuai
dengan Dhamma.
Apalagi jika seorang pedagang melakukan penimbunan agar dapat menjual
barangnya yang langka di pasaran dengan harga sangat tinggi, perilaku
bisnis yang dikenal dengan istilah ‘spekulasi’ ini adalah tidak sesuai
Dhamma dan bahkan bertentangan dengan hukum negara.

Adapun usaha yang baik serta sungguh-sungguh justru dalam Dhamma
sangat dianjurkan.
Hal ini tampak pada Anguttara Nikaya 145 yang isinya adalah:

Apabila rajin bekerja, tidak ceroboh,
Pandai mengelola, mencukupi kehidupan dengan wajar;
Orang niscaya dapat merawat dan
Bahkan melipatgandakan kekayaannya.

Jadi, umat Buddha memang boleh kerja keras untuk mendapatkan kekayaan.
Namun, hal yang paling penting baginya adalah mengembangkan kondisi
batin agar tidak melekat pada segala prestasi dan hasil yang telah
diperolehnya.
Keserakahan akan timbul apabila kegagalan suatu usaha dianggap sebagai
kerugian besar. Sebaliknya, apabila kegagalan menjadi pelajaran untuk
meningkatkan kualitas diri di masa depan, maka tentu saja usaha yang
rajin dan bersemangat dalam berwiraswasta tidak dapat segera disebut
sebagai keserakahan.
Oleh karena itu, keberhasilan dan kegagalan suatu usaha adalah
kenyataan yang harus diterima dalam hidup dan hendaknya dijadikan
pelajaran untuk mendapatkan kemajuan.
Penyebab keberhasilan hendaknya selalu dikondisikan untuk dilakukan
terus menerus. Sedangkan penyebab kegagalan hendaknya dikondisikan
agar tidak terjadi di masa sekarang.
Dengan demikian, kemajuan akan selalu diperoleh serta kemunduran usaha
dapat dihindari.
Memiliki mental tidak melekat pada keberhasilan serta siap menghadapi
kegagalan yang paling pahit sekalipun adalah mental yang layak untuk
umat Buddha agar dapat maju dalam usaha tanpa harus menjadi serakah.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat untuk lebih meningkatkan semangat kerja.
Semoga bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo

[VIDEO]The Story of Princess Yasodhara

When the Buddha had taken his meal that day, all who knew him as Prince Siddhartha, except Princess Yasodhara, came to talk to him. All of them were surprised but happy to see their prince dressed like a monk.

Yasodhara stayed in her room thinking, “Prince Siddhartha is now the Enlightened One — the Buddha. He now belongs to the line of Buddhas. Is it right for me to go to him? He does not and cannot need me. I think it is better to wait and see.”

After a while the Buddha asked, ” Where is Yasodhara?”

“She is in her room,” said his father.”I shall go there,” said the Buddha and, giving his bowl to the king, he went to her room. As he entered he said to the king, “Let her pay me respect as she likes. Say nothing.”

As soon as the Buddha entered the room, even before he took his seat, Yasodhara rushed to him. She fell to the floor, held his ankles, placed her head at his feet and cried and cried until his toes were wet with her tears. The Buddha kept quiet and nobody stopped her until she was tired of crying. King Suddhodana then said, “Lord, when my daughter-in-law heard that you were wearing yellow robes she also robed herself in yellow. When she heard you were taking one meal a day she did the same. When she heard that you had given up lofty couches, she lay on a low couch and when she heard that you had given up garland and scents she too gave them up. So virtuous is my daughter-in-law.”

The Buddha nodded and said, “Not only in this last birth, O king, but in a previous birth too, Yasodhara was devoted and faithful to me.”

Terjemahan (oleh: Budianto):

Ketika Sang Buddha telah selesai makan pada hari itu, Kecuali Putri Yasodhara, semua orang yang mengenalNya sebagai Pangeran Siddharta, datang untuk berbicara denganNya. Mereka semua terkejut tetapi senang melihat pangeran mereka berpakaian seperti Bhikkhu.

Yasodhara tinggal diam dalam kamarnya dan berpikir, “Pangeran Siddhartha sekarang adalah Seorang yang Tercerahkan – Seorang Buddha, Sekarang Dia adalah garis keturunan Buddha.. Apakah benar bagi saya untuk pergi mendekati Dia? Ia tidak dan tidak mungkin membutuhkan aku lagi. Saya pikir adalah lebih baik untuk menunggu dan melihat..”

Setelah beberapa saat, Sang Buddha bertanya, “Di manakah Yasodhara?”

“Dia di kamarnya,” kata ayahnya “Aku akan pergi ke sana.,” Kata Sang Buddha, dan memberikan mangkukNya kepada raja, Ia pergi ke kamarnya. Ketika Sang Buddha masuk, Ia berkata kepada raja, “Biarkan dia menghormati saya seperti yang dia mau, jangan berkata apapun”

Segera setelah Sang Buddha memasuki ruangan, bahkan sebelum Ia duduk, Yasodhara bergegas menghampiriNya. Dia menjatuhkan diri ke lantai, memegang pergelangan kaki Sang Buddha, meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha dan menangis, menangis hingga jari-jari kaki Sang Buddha basah oleh air matanya. Sang Buddha diam dan tidak ada yang menghentikannya sampai ia lelah menangis. Raja Suddhodana kemudian berkata, “Yang Mulia, ketika menantu saya mendengar bahwa Anda memakai jubah kuning, dia juga memakaikan dirinya Jubah Kuning. Ketika ia mendengar Yang Mulia makan hanya satu kali sehari, ia melakukan hal yang sama.. Ketika ia mendengar bahwa Anda telah meninggalkan dipan(tempat tidur) yang tinggi, ia juga tidur di dipan(tempat tidur) yang rendah dan ketika dia mendengar bahwa Anda telah meninggalkan untaian2 bunga dan wewangian, ia juga meninggalkan semua itu. Sungguh luhur menantu perempuan saya ini”

Sang Buddha mengangguk dan berkata, “Tidak hanya dalam kelahiran terakhir ini saja, O raja, tetapi dalam kelahiran sebelumnya juga, Yasodhara sungguh berbakti dan setia padaku.”

_/\_

 

3 AKAR KEJAHATAN

Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha …

“Wahai para bhikkhu, ada tiga akar kejahatan.”

“Apakah tiga akar itu?”

“Akar kejahatan keserakahan, akar kejahatan, kebencian, dan akar kejahatan kebodohan batin. Itulah ketiganya.”

 

Keserakahan, kebencian dan kebodohan batin,
Yang muncul dari dalam dirinya,
Akan merugikan orang yang berpikiran jahat,
Seperti buah bambu menghancurkan
Tumbuhnya pohon itu sendiri.

Natthi dosasamo gaho.
Natthi mohasama? j?la?.
Natthi tanh? sam? nad?.

Tidak ada cengkraman yang lebih kuat dari kebencian.
Tidak ada jaringan yang lebih rapat dari kebodohan.
Tidak ada sungai yang arusnya lebih deras dari nafsu keinginan.
(Dhammapada 251)

Kita umat Buddha wajib berusaha jangan menimbulkan dan memperkembangkan Akusala-Mula 3 ini dalam diri kita. Karena bila Akusala-Mula 3 telah timbul dan berkembang dalam diri kita, hal ini akan membawa penderitaan dalam kehidupan kita sekarang ini dan kehidupan yang akan datang.

Akibat dari melakukan Akusala-Mula 3 adalah :
- Semua makluk sebagian besar dilahirkan menjadi setan ( Peta ) dan raksasa asura ( asurakaya ) dengan kekuatan LOBHA.
- Semua makluk dilahirkan di alam neraka ( Niraya ) dengan kekuatan DOSA.
- Semua makluk dilahirkan menjadi binatang ( Tiracchanayoni ) dengan kekuatan MOHA.

3 Macam Akar Kejahatan

AKUSALA-MULA 3
Akusala-Mula 3 : ada 3 macam akar kejahatan ( yang tidak baik ), yaitu :
1. Lobha : Keserakahan, ketamakan, ingin menerima tetapi tidak ingin memberi.
2. Dosa : Kebencian, dendam, berfikir akan menyakiti orang lain karena tidak senang.
3. Moha : Kebodohan batin, ketidak tahuan atau mengetahui secara salah.

Keterangan :
Akusala-Mula 3 ( 3 akar kejahatan ) :

- LOBHA : secara etika berarti ketamakan, tetapi secara psikologis berarti terikatnya pikiran oleh obyek-obyek. Inilah kadang-kadang disebut Tanha atau Keinginan, kadang-kadang pula disebut Loba, kadang-kadang pula disebut Kama atau Nafsu indera, kadang-kadang pula disebut Raga atau Hawa napsu.
- DOSA : secara etika berarti kebencian, tetapi secara psikologis berarti pukulan yang berat dari pikiran-pikiran terhadap obyek, yaitu pertentangan atau konflik. Mengenai ini terdapat dua macam nama, yaitu Patigha atau dendam atau Tidak senang dan Byapada atau kemauan jahat.
- MOHA : berarti kebodohan batin atau kurang pengertian. Ia juga disebut Avijja ( Tidak tahu ), atau Annana ( Tidak berpengetahuan ) atau Adassana ( Tidak nampak tidak mengerti ).
( Dighanikaya III.275.Itivuttaka 45 )

AKUSALA–VITAKKA 3

Akusala-Vitakka 3 : ada 3 macam pikiran jahat ( yang tidak baik ), yaitu :
1. Kama-vitakka : Pikiran yang menghasilkan keserakahan atau ketamakan.
2. Byapada-vitakka : Pikiran yang menghasilkan kebencian atau dendam atau kemauan jahat.
3. Vihimsa-vitakka : Pikiran yang menghasilkan kekejaman atau kebengisan.

Keterangan :
Contoh-contoh dari yang pertama dapat dilihat apabila seseorang memanjakan dirinya di dalam kelakuan sex yang rendah, seperti perjinahan, atau perbuatan-perbuatan sex yang melanggar, atau apabila seseorang dikuasai oleh keserakahan dan mencari uang melalui sumber-sumber yang melanggar hokum.

Pikiran-pikiran jahat macam kedua adalah apa yang ditimbulkan oleh kemarahan dan diperkuat oleh kebencian atau keinginan untuk membalas dendam.

Pikiran-pikiran jahat macam ketiga dapat dilihat pada seseorang yang bersenang-senang sendiri sambil mengorbankan orang lain atau orang yang senang memberi beban tugas yang berlebih-lebihan kepada bawahannya atau binatang-kerja dan merasa acuh tak acuh atas penderitaan makluk-makluk lain.

Catatan :
Sejauh berkenaan dengan tiga akar kejahatan :
Pikiran-pikiran jahat yang pertama adalah disebabkan oleh keserakahan ( raga ).
Pikiran jahat yang kedua adalah disebabkan oleh kemarahan ( dosa ).
Pikiran jahat yang ketiga adalah disebabkan oleh ketidaktahuan ( moha ).
( Anguttaranikaya III.446 )

AKUSALA-HETU 3

Akusala-Hetu 3 : ada 3 macam sebab yang tidak baik, yaitu :
1. Lobha-hetu : Sebab dari keserakahan atau ketamakan.
2. Dosa-hetu : Sebab dari kebencian atau dendam.
3. Moha-hetu : Sebab dari kebodohan batin atau ketidak tahuan.

Keterangan :
1. Lobha-hetu : Penyebab menimbulkan keinginan untuk membunuh, mencuri, berzina, main judi, meminum alcohol dan lain-lainnya.
2. Dosa-hetu : Penyebab menimbulkan kebencian, kemarahan, keirihatian, kekejaman, kecemburuan dan lain-lainnya.
3. Moha-hetu : Penyebab menimbulkan ketidak tahuan, tidak tahu yang mana benar dan salah, yang mana baik dan buruk, yang mana berguna dan tidak berguna, tidak dapat melihat hidup dan kehidupan sewajarnya atau tidak tahu hakekat hidup dan kehidupan ini.

Catatan :

- Lobha-hetu : Dapat terlahir di alam Setan dan Asura.
- Dosa-hetu : Dapat terlahir di alam Neraka.
- Moha-hetu : Dapat terlahir di alam Binatang.
( Lobha-hetu, Dosa-hetu, Moha-hetu adalah penyebab terlahirnya makluk di alam APAYA ).
( Abhidhammathasangaha bahasa Thai )

AKUSALA-SANNA 3

Akusala-sanna 3 : ada 3 macam pencerapan yang tidak baik, yaitu :
1. Kama-sanna : Pencerapan yang berkenaan dengan nafsu indera.
2. Byapada-sanna : Pencerapan yang berkenaan dengan nafsu mendendam atau kemauan jahat.
3. Vihimsa-sanna : Pencerapan yang berkenaan dengan kekejaman.
( Sangiti Sutta Patikavagga Dighanikaya bahasa Thai )

AKUSALA-SANKAPPA 3

Akusala-sankappa 3 : ada 3 macam pemikiran jahat, yaitu :
1. Kama-sankappa : Pemikiran yang berkenaan dengan nafsu indera.
2. Byapada-sankappa : Pemikiran yang berkenaan dengan mendendam atau kemauan jahat.
3. Vihimsa-sankappa : Pemikiran yang berkenaan dengan kekejaman.
( Sangiti Sutta Patikavagga Dighanikaya bahasa Thai )

AKUSALA-DHATU 3

Akusala-dhatu 3 : ada 3 macam unsur kejahatan, yaitu :
1. Kama-dhatu : Unsur kejahatan yang berkenaan dengan nafsu indera.
2. Byapada-dhatu : Unsur kejahatan yang berkenaan dengan dendam.
3. Vihimsa-dhatu : Unsur kejahatan yang berkenaan dengan kekejaman.
( Sangiti Sutta Patikavagga Dighanikaya bahasa Thai )

AKUSALA-CITTA 12

Akusala-citta 12 : ada 12 macam kesadaran / pikiran yang tidak baik atau jahat.
- Lobhamula-citta 8 : ada 8 macam akar loba.
1. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan tanpa ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pandangan salah.
2. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pandangan salah.
3. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan tanpa ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
4. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
5. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan tanpa ajakan, disertai masa bodoh, bersekutu dengan pandangan salah.
6. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai masa bodoh, bersekutu dengan pandangan salah.
7. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan tanpa ajakan, disertai masa bodoh, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
8. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai masa bodoh, tidak bersekutu dengan pandangan salah.

- Dosamula-citta 2 : ada 2 macam akar kebencian.
1. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan tanpa ajakan, disertai ketidaksenangan, bersekutu dengan dendam.
2. Kesadaran / pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai ketidaksenangan, bersekutu dengan dendam.

- Mohamula-citta 2 : ada 2 macam akar kebodohan.
1. Kesadaran / pikiran yang timbul disertai masa bodoh, bersekutu dengan keraguan.
2. Kesadaran / pikiran yang timbul disertai masa bodoh, bersekutu dengan kegelisahan.

AKUSALAVIPAKA-CITTA 7

Akusalavipaka-citta 7 : ada 7 macam kesadaran pikiran yang menjadi hasil/akibat dari Akusala-karma, yaitu hasil akibat yang tidak baik atau jahat.
1. Kesadaran mata timbul disertai masa bodoh.
2. Kesadaran telinga timbul disertai masa bodoh.
3. Kesadaran hidung timbul disertai masa bodoh.
4. Kesadaran lidah timbul disertai masa bodoh.
5. Kesadaran jasmani timbul disertai menyakiti.
6. Kesadaran menerima obyek disertai masa bodoh.
7. Kesadaran memeriksa obyek disertai masa bodoh.

AKUSALA-CETASIKA 14

Akusala-cetasika 14 : ada 14 macam bentuk batin yang jahat.
1. Mocatuka-cetasika 4 : 4 macam bentuk batin yang Moha-cetasika menjadi pemimpin.
- Moha : Kebodohan atau kegelapan batin.
- Ahirika : Tidak ada malu.
- Anottappa : Tidak ada takut atau nekat.
- Uddhacca : Kegelisahan.
2. Lokita-cetasika 3 : 3 macam bentuk batin yang Lobha-cetasika menjadi pemimpin.
- Lobha : Ketamakan atau kelobaan.
- Ditthi : Kekeliruan atau kepalsuan.
- Mana : Kesombongan.
3. Docatuka-cetasika 4 : 4 macam bentuk batin yang Dosa-cetasika menjadi pemimpin.
- Dosa : Kebencian.
- Issa : Keirihatian.
- Macchariya : Egois.
- Kukkuca : Kekhawatiran.
4. Thiduka-cetasika 2 : 2 macam bentuk batin yang Thina-cetasika menjadi pemimpin.
- Thina : Kemalasan.
- Middha : Kelelahan.
5. Vicikiccha-cetasika 1 : 1 macam bentuk batin keragu-raguan.
- Vicikiccha : Keragua-raguan atau kebingungan.

ANNASAMANA-CETASIKA 13

Annasamana-cetasika 13 : ada 13 macam bentuk batin yang sama keadaanya, yaitu dapat bersekutu kepada semua kesadaran / pikiran yang baik dan jahat.
1. Sabbacittasadharana-cetasika 7 : 7 macam bentuk batin yang bersekutu kepada kesadaran / pikiran yang baik dan jahat.
- Phassa : Kontak.
- Vedana : Perasaan.
- Sanna : Pencerapan.
- Cetana : Kehendak.
- Ekaggata : Pemusatan pikiran.
- Jivitindriya : Kehidupan jasmani.
- Manasikara : Perhatian.

2. Pakinnaka-cetasika 6 : 6 macam bentuk batin yang bersekutu kepada sebagian kesadaran / pikiran.
- Vitakka : Perenungan permulaan.
- Vicara : Perenungan penopang.
- Adhimokkha : Keputusan.
- Viriya : Usaha.
- Piti : Kegiuran.
- Chanda : Keinginan untuk berbuat.

Lobha
Untuk mencegah timbulnya Lobha dalam diri, maka perlu:
- Menggunakan Sati (perhatian,kewaspadaan, kesadaran).
- Berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan.
- Merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan Panna (kebijaksanaa).
- Membangkitkan Hiri (malu berbuat jahat) dan Ottapa (takut berbuat jahat).
- Mengembangkan Dhamma yang berlawanan dengan Lobha, seperti berdana.
(Ajitamanavasa, Solasa panha)

Dosa
Untuk menghindari timbulnya Dosa dalam diri, maka diperlukan menjalankan Panca Sila (Lima Sila)

Moha
Untuk mencegah timbulnya Moha dalam diri, maka cara terbaik adalah mengembangkan Panna (kebijaksanaan). Panna (kebijaksanaan dapat dicapai dengan berbagai macam cara, seperti banyak membaca, belajar, meditasi , dan sering mendengar dhammadessana.

Semoga bermanfaat………..

Sumber 

3 Akar Kejahatan.Mp3

8 Sifat Mulia Berdana

 

Kita memang tidak dapat menentukan kapan kebajikan itu akan diterima. Tetapi pemberian orang bijaksana memiliki 8 sifat mulia yang dapat Mempercepat masaknya buah kebajikan , yaitu :
1.Sucim-deti : berdana barang yang bersih (murni)
Barang yang di berikan benar2 di peroleh dengan cara yang benar sesuai dengan Dhamma, jadi bukan barang di peroleh dengan cra yang salah.

2. Panitam-deti : Dana barang yang terbaik yg dimiliki
3. Kalena-deti : dana di berikan tepat waktunya
Seperti menanam bibit, subur tidaknya juga tergantung musim yang tepat.

4. Kappiyam-deti : dana barang yang layak di berikan.
Barang yang di danakan adalah barang yang bermanfaat bagi si penerima.

5. Viccheya-deti : berdana secara bijaksana
Berdana hendaknya di pilih orang yang tepat menerima atau penyalurnya.

6. Abhinam-deti : melaksanakan dana harus tetap
Kebajikan yang dilakukan terus-menerus bagaikan air yang menitik, perlahan tapi pasti dpat memenuhi sebuah tempayan.

7. Dadam citam pasadeti : berdana harus di laksanakan dengan pikiran tenang dan rela
( Ketenangan dan kerelaan merupakan sifat mulia yg menambah harumnya kebajikan )

8. Datva attamano hoti : setelah berdana batin merasa tenang.
( Kesenangan dan kebahagiaan ini dapat kita limpahkan dengan merenungkan kepada para leluhur kita. Hal ini bisa dicapai bilamana dalam berdana batin tidak melekat )