Category Archives: Artikel Buddhis

Paket Bekal Untuk Tunawisma

Tosabella in action
Momo in Action

Minggu, 08 Februari 2015, pukul 05.00WIB Mitos Medan akan membagikan Paket Bekal Pagi untuk 50 Tunawisma disekitar kota Medan.
Paket Bekal Pagi terdiri dari Nasi sayur, 2bh roti, 2btl 600ml air minum, 2bh buah, 2bh biscuit kering, dan pakaian layak pakai dan ditambah angpao.
Bagi yang ingin berpartisipasi dlm pembagian paket bekal makan pagi, dapat menghubungi:
Wilya Intan Hp.081361599835
Budianto Hp. 08126580025
Purnomo Hp. 085265564004

Bagi teman2 yg ingin ikut serta dlm pembagian diharapkan pemberitahuan segera dan karena packing paket di hari sabtu, maka diharapkan paling lambat barang telah tiba di pos kami paling lambat di hari kamis, 05 Februari 2015.

Terima kasih, salam bahagia

[Tanya-Jawab] Apa yang perlu diperhatikan dalam mata pencarian?

Dari: anton yanuar, bekasi
Apa yang perlu diperhatikan dalam mata pencarian?
Karena saya bingung apa yang disebut serakah.
Saya membantu orangtua wiraswasta (berdagang), persaingan dagang semakin ketat.
Apa bijak kita ingin usaha bertambah besar dan besar (menguasai pasar)?
Melakukan pengendalian harga pasar (menjual dengan untung kecil agar
angka penjualan tinggi), apakah ini serakah ?
Atau menjual item barang dengan harga jual tinggi.
Terima kasih.

Jawaban:
Adalah hal yang wajar jika sebagai seorang perumah tangga bekerja
keras mencari nafkah demi kebahagiaan diri sendiri maupun keluarganya.
Namun, kerja keras ini hendaknya dilakukan dengan memperhatikan
beberapa hal berikut:
1. Mendapatkan uang sebagai sarana membahagiakan keluarga.
2. Melaksanaan pekerjaan yang tidak bertentangan dengan hukum negara
serta Pancasila Buddhis.
3. Mengembalikan suatu perilaku bisnis pada diri sendiri yaitu:
Apabila diri sendiri tidak ingin dirugikan, maka hendaknya orang juga
tidak merugikan fihak lain.

Dengan demikian, memperbesar suatu usaha adalah hal yang wajar
dilakukan, namun menjual barang dengan harga yang lebih tinggi dari
harga pasar pada umumnya adalah merupakan tindakan yang kurang sesuai
dengan Dhamma.
Apalagi jika seorang pedagang melakukan penimbunan agar dapat menjual
barangnya yang langka di pasaran dengan harga sangat tinggi, perilaku
bisnis yang dikenal dengan istilah ‘spekulasi’ ini adalah tidak sesuai
Dhamma dan bahkan bertentangan dengan hukum negara.

Adapun usaha yang baik serta sungguh-sungguh justru dalam Dhamma
sangat dianjurkan.
Hal ini tampak pada Anguttara Nikaya 145 yang isinya adalah:

Apabila rajin bekerja, tidak ceroboh,
Pandai mengelola, mencukupi kehidupan dengan wajar;
Orang niscaya dapat merawat dan
Bahkan melipatgandakan kekayaannya.

Jadi, umat Buddha memang boleh kerja keras untuk mendapatkan kekayaan.
Namun, hal yang paling penting baginya adalah mengembangkan kondisi
batin agar tidak melekat pada segala prestasi dan hasil yang telah
diperolehnya.
Keserakahan akan timbul apabila kegagalan suatu usaha dianggap sebagai
kerugian besar. Sebaliknya, apabila kegagalan menjadi pelajaran untuk
meningkatkan kualitas diri di masa depan, maka tentu saja usaha yang
rajin dan bersemangat dalam berwiraswasta tidak dapat segera disebut
sebagai keserakahan.
Oleh karena itu, keberhasilan dan kegagalan suatu usaha adalah
kenyataan yang harus diterima dalam hidup dan hendaknya dijadikan
pelajaran untuk mendapatkan kemajuan.
Penyebab keberhasilan hendaknya selalu dikondisikan untuk dilakukan
terus menerus. Sedangkan penyebab kegagalan hendaknya dikondisikan
agar tidak terjadi di masa sekarang.
Dengan demikian, kemajuan akan selalu diperoleh serta kemunduran usaha
dapat dihindari.
Memiliki mental tidak melekat pada keberhasilan serta siap menghadapi
kegagalan yang paling pahit sekalipun adalah mental yang layak untuk
umat Buddha agar dapat maju dalam usaha tanpa harus menjadi serakah.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat untuk lebih meningkatkan semangat kerja.
Semoga bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo

[VIDEO]The Story of Princess Yasodhara

When the Buddha had taken his meal that day, all who knew him as Prince Siddhartha, except Princess Yasodhara, came to talk to him. All of them were surprised but happy to see their prince dressed like a monk.

Yasodhara stayed in her room thinking, “Prince Siddhartha is now the Enlightened One — the Buddha. He now belongs to the line of Buddhas. Is it right for me to go to him? He does not and cannot need me. I think it is better to wait and see.”

After a while the Buddha asked, ” Where is Yasodhara?”

“She is in her room,” said his father.”I shall go there,” said the Buddha and, giving his bowl to the king, he went to her room. As he entered he said to the king, “Let her pay me respect as she likes. Say nothing.”

As soon as the Buddha entered the room, even before he took his seat, Yasodhara rushed to him. She fell to the floor, held his ankles, placed her head at his feet and cried and cried until his toes were wet with her tears. The Buddha kept quiet and nobody stopped her until she was tired of crying. King Suddhodana then said, “Lord, when my daughter-in-law heard that you were wearing yellow robes she also robed herself in yellow. When she heard you were taking one meal a day she did the same. When she heard that you had given up lofty couches, she lay on a low couch and when she heard that you had given up garland and scents she too gave them up. So virtuous is my daughter-in-law.”

The Buddha nodded and said, “Not only in this last birth, O king, but in a previous birth too, Yasodhara was devoted and faithful to me.”

Terjemahan (oleh: Budianto):

Ketika Sang Buddha telah selesai makan pada hari itu, Kecuali Putri Yasodhara, semua orang yang mengenalNya sebagai Pangeran Siddharta, datang untuk berbicara denganNya. Mereka semua terkejut tetapi senang melihat pangeran mereka berpakaian seperti Bhikkhu.

Yasodhara tinggal diam dalam kamarnya dan berpikir, “Pangeran Siddhartha sekarang adalah Seorang yang Tercerahkan – Seorang Buddha, Sekarang Dia adalah garis keturunan Buddha.. Apakah benar bagi saya untuk pergi mendekati Dia? Ia tidak dan tidak mungkin membutuhkan aku lagi. Saya pikir adalah lebih baik untuk menunggu dan melihat..”

Setelah beberapa saat, Sang Buddha bertanya, “Di manakah Yasodhara?”

“Dia di kamarnya,” kata ayahnya “Aku akan pergi ke sana.,” Kata Sang Buddha, dan memberikan mangkukNya kepada raja, Ia pergi ke kamarnya. Ketika Sang Buddha masuk, Ia berkata kepada raja, “Biarkan dia menghormati saya seperti yang dia mau, jangan berkata apapun”

Segera setelah Sang Buddha memasuki ruangan, bahkan sebelum Ia duduk, Yasodhara bergegas menghampiriNya. Dia menjatuhkan diri ke lantai, memegang pergelangan kaki Sang Buddha, meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha dan menangis, menangis hingga jari-jari kaki Sang Buddha basah oleh air matanya. Sang Buddha diam dan tidak ada yang menghentikannya sampai ia lelah menangis. Raja Suddhodana kemudian berkata, “Yang Mulia, ketika menantu saya mendengar bahwa Anda memakai jubah kuning, dia juga memakaikan dirinya Jubah Kuning. Ketika ia mendengar Yang Mulia makan hanya satu kali sehari, ia melakukan hal yang sama.. Ketika ia mendengar bahwa Anda telah meninggalkan dipan(tempat tidur) yang tinggi, ia juga tidur di dipan(tempat tidur) yang rendah dan ketika dia mendengar bahwa Anda telah meninggalkan untaian2 bunga dan wewangian, ia juga meninggalkan semua itu. Sungguh luhur menantu perempuan saya ini”

Sang Buddha mengangguk dan berkata, “Tidak hanya dalam kelahiran terakhir ini saja, O raja, tetapi dalam kelahiran sebelumnya juga, Yasodhara sungguh berbakti dan setia padaku.”

_/\_