Mengatasi Kemarahan

MENGATASI KEMARAHAN dgn melihat kemarahan dan menguraikannya menjadi bagian2 yang tidak dapat
disatukan lagi..
kita menguraikan sebab2 kemarahan menjadi sebab
dan akibat2 kemarahan menjadi akibat..
dengan mengetahui dan menelusuri darimana datangnya(sebab) dan mau kemana dia
(akibat) maka kemarahan itu tidak dapat bergerak lagi..
dia akan berhenti disana
dan lenyap..

_/_

—————————————-

Notes:
poin saya adalah perenungan kedalam yang langsung menuju ke akar2 masalahnya, pikiran yang mengetahui suatu “Kemarahan” itu sebagaimana adanya.. hanya dengan mengetahui darimana datangnya, dan mau kemana dia.. dengan mengetahui sejauh ini hanya untuk melatih kesadaran kita, menghancurkan kemarahan itu menjadi bagian2 yang merupakan sifat2 dasar dari suatu kemarahan itu, seperti kita membagi tubuh ini kembali menjadi 4 unsur yakni tanah, api, air, dan angin.. maka dengan ini akan muncul pengetahuan pandangan benar.. “Oh, ini dia yang kita sebut Kemarahan, Oh ini dia yang kita sebut Tubuh

 

No One to Accept Suffering

When suffering arises, understand that there is no one to accept it.
If you think suffering is yours, happiness is yours,
you will not be able to find peace.
(Ajahn Chah)

————————–
Ketika penderitaan muncul, ketahuilah bahwa tidak ada seorang diri(anatta) untuk menerimanya.
jika kamu berpikir penderitaan adalah milikmu, kebahagiaan adalah milikmu,
kamu tidak akan bisa menemukan kedamaian.

 

Praktik Buddhis

Inti dari praktik Buddhis adalah untuk menghasilkan keberadaan kita sendiri sedemikian rupa sehingga kita dapat menyentuh secara mendalam kehidupan yang ada di sini dan tersedia setiap saat. Kita harus berada di sini untuk diri kita sendiri, kita harus berada di sini untuk orang yang kita cintai, kita harus berada di sini untuk hidup dengan segala keanehannya. Pesan dari praktik Buddhis kami sederhana dan jelas:
“Saya di sini untuk Anda.”

- Thich Nhat Hanh -

Pujian dan Kesombongan

Ketika mendengar pujian, pikiran selalu saja lari ke arah rasa senang yang tidak karuan, jika tidak disadari, pikiran terus mencari pujian2 dan kesenangan didalamnya terus menerus, begitulah kesombongan pada diri kami muncul.. padahal jika dibandingkan dengan dhamma, pujian itu hanya sebatas kata2, begitulah hendaknya kita senantiasa menyadari bathin apa adanya.. _/\_